Bukan Santri Biasa


Detik-Detik Terakhir
April 13, 2011, 2:53 am
Filed under: Cerpen | Tags:

“Baiklah, untuk mempersingkat waktu, mari kita buka acara insi dengan berdo’a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.Berdo’a mulai, komando pemandu acara dengan semangat.

Ruangan pun hening sesaat. ” Berdo’a selesai. Acara selanjutnya yaitu membuat main map pembuatan buku sirah nabawiyah sekaligus bla, bla, bla, bla,” aku sudah tak mendengarkan kembali ucapan pembawa acara itu.

Aku yang sangat anti terhadap dingin dan kebetulan sedang tak enak badan, langsung menunjukkan aksi stres: bolak-balik ke kamar mandi. Segera ku balikkan badan membelakangi MC yang sedang bercuap-cuap menjelaskan bagaimana jalan mainnya acara.

“Mau kemana mba Muniroh?” tanya Anis, juniorku yang terkenal sangat aktif dalam berorganisasi.

“Kekamar mandi,” jawabku tanpa menoleh sedikitpun.

Langsung ku ambil langkah seribu demi menyelamatkan penyakit beserku ini. Swiiing…. Sampailah aku di depan ruangan berukuran 1x1meter itu. Namun, ternyata aku tak bisa langsung memasuki ruangan penyelamat ngompol itu dikarenakan banyak yang ngantri saudara-saudari!!! Kontan aku berjalan mondar-mandir di depan mini toilet itu. Dan…

“Krek,” salah satu pintu kamar mandi dibuka.

Keluarlah seorang juniorku yang belum ku kenal namanya yang merupakan salah satu reporter baru sepertiku juga. Tanpa pikir panjang aku langsung memasuki kamar mandi kecil nan pengap itu. Karena aku termasuk orang yang tidak suka berlama-lama di kamar mandi, keluarlah aku beberapa menit kemudian. Langsung kulangkahkan kaki ku menuju ruangan super dingin itu.

“Tuk, tuk, tuk,bunyi sepatu murahanku mengundang perhatian sepertinya. Ku lihat banyak mata memandangku aneh.

” Ada apa gerangan mereka memandang ku seperti itu? Apakah aku salah jika aku keluar sebentar untuk membuang hajatku? Atau, ada yang salahkah dengan kostumku?” aku bertanya-tanya dalam hati.

Keringat dingin pun keluar dengan derasnya. Namun, aku masih tetap memberanikan diri untuk melangkahkan kakiku sampai pada bangku semula. Akhirnya kujatuhkan pantatku pada kursi empuk made in Junti itu. Ketegangan ku pun mulai makin berkurang. Perlahan-lahan ku amati seluruh sudut ruangan multi fungsi itu. Ku lihat sudah tak ada mata yang memperhatikanku lagi. Mereka sudah mulai berkonsentrasi pada materi yang trainer berikan sepertinya. Ku baca copyan materi yang sudah panitia berikan dengan seksama. Sekilas tidak ada yang menarik. Namun jika dibaca dengan cermat, bobot materi yang diberikan lumayan berat juga,” pikirku.

30 menit kemudian…

Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada diri ku selain rasa lemas yang sudah beberapa hari ini  ku rasakan. Namun entah apa ketidak beresan itu,aku tak tau. Semuanya ku anggap biasa saja. Aku tak ingin bermanja-manja ria hanya karena sakit sepele seperti ini. Sebenarnya akhir-akhir ini tensi ku memang sedang tidak beres karena banyak kegiatan dan memikirkan banyak hal. Akan tetapi, itu sudah sangat biasa sekali dan yang kurasakan pun hanya sedikit lemas seperti riwayat-riwayat sakit ku sebelumnya. Penyakit angina pektoris yang ku idap, baru terdeteksi akhir-akhir ini .

Kabar dari dokter tentang penyakit ku yang katanya lebih menyeramkan dari monster itu, ternyata tak semenakutkan yang aku pikir. Plak-plak kolesterol yang konon katanya menyelubungi dinding arteri yang menyebabkan adanya penyempitan arteri koroner itu ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap aktifitas keseharianku. Hanya saja aku merasa lebih cepat lelah dan dingin jika beraktifitas. Kegemaranku pada makanan-makanan berlemak ternyata membuatku tak bisa memungkiri penyakit ini. Aku hanya bisa menyesalkan semua “keberlebihan pola makanku ku dan pasrah menerima segala yang Ia berikan pada ku saat ini.

“Nyut, dadaku sesak tak tertahan.

Inginku tinggalkan acara inidan segera ku rebah kan tubuh ku yang mulai melemah.Namun, rasa malu ku yang besar  membuatku terpaku pada kursi panas yang harus ku dududki sampai 3 jam mendatang.Mukaku pucat pasi. Tak ada yang bisa kulakukan selain menopangkan dagu pada meja terdekat.  Ku dengar satu orang disamping kanan ku bersuara. Kemudian disusul dengan teriakan suara dari samping kiri ku dengan yang lain. Suasana yang tadinya hening kini berubah 180° menjadi ramai. Lolongan jeritan dari sana sini terdengar begitu keras. Semua undangan mengelilingiku dalam sekejap. Namun yang ada dalam rekaman video kehidupan ku hanya ada bercak-bercak hitam yang makin lama makin banyak. Dan…

“Bruk,” tubuh ku tak kuat menahan sakitnya dada yang kurasa.

Sesak dan lemas tak tertahan. Kurasakan beberapa tangan menyanggah tubuhku. Kulihat mereka membawa ku pada suatu tempat. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita berbaju putih meletakkan stetoskop kearah dadaku. Kontan ia terkejut setelah mendengar bunyi abnormal jantung ku. Ia terlihat sangat panik melihat kondisiku yang makin memburuk. Tak lama kemudian…

“Ngiung, ngiung, ngiung,” suara ambulans menjemput.

Tak terpikir sedikit pun keadaan seperti ini datang dengan begitu cepatnya. Dari kejauhan, kulihat kedatangan berjuta-juta pendar bintang datang tersenyum melihat ku .Lambaian-lambaian tangannya menyuruh ku untuk segera meraihnya. Makin lama makin dekat dan mulai jelas lah senyuman-senyumannya yang begitu mempesona. Dan ketika itu, tak ada lagi yang bisa ku perbuat untuk menyambut kedatangan mereka selain

Asyhadu allailaaha illallah, wa asy hadu anna muhammadar rasulullah…

Facebook Comments


Leave a Reply



12 Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>