Bukan Santri Biasa


First Sight
May 10, 2011, 2:00 pm
Filed under: Cerpen

“Kruyuk, kruyuk, kruyuk…” bunyi perut ku memanggil, meminta ku untuk segera mengisinya.
Ku pandangi dompet coklat butut ku yang sudah lama tak berisi itu miris. Sudah 1 minggu ini aku puasa karena kiriman dari kampung belum juga datang. Namun, memang bukan pertamanya kalinya aku merasakan hal semacam ini. Ya, Bandung memang benar-benar mencekik bagi orang kampung sepertiku. Banyak suka duka yang kualami pada kota BSM (Bandung Super Monster) ini. Dari mulai kehabisan uang, hingga berkali-kali aku terancam di depak dari kos dan perkuliahan. Semuanya aku alami hingga sekarang ini.
Sebenarnya aku sudah bekerja disalah satu toko di dekat kosan ku beberapa bulan ini untuk sedikit meringankan beban orang tua yang sudah mulai terlihat ubannya. Namun sepertinya gaji ku disana tidak bisa diandalkan untuk mahasiswa keperawatan yang tinggal dikota seperti ku. Apa-apa serba mahal.Aku tak mungkin bisa hanya bertopang pada gaji ku yang hanya 50.000/minggu. Mana bisa aku bisa mencukupi kehidupan ku dengan uang sekian tiap minggunya. Mana ada artinya.
Dan sore ini sepertinya aku benar-benar sudah kehabisan uang sama sekali. Aku tak tau harus makan apa untuk buka puasa nanti.Nasib. Bingung rasanya, aku tak tau harus berbuat apa lagi. Ingin rasanya mencari pekerjaan yang sedikit layak dan setidaknya bisa untuk mencukupi biaya makan ku saja lah minimal. Tapi, rasanya semua itu tidak mungkin. Jam kuliah ku yang padat membuat ku tak berkutik untuk tidak bisa bekerja pada perusahaan-perusahaan yang aku incar. Dan satu-satunya pekerjaan yang sedikit fleksibel adalah menjadi pelayan toko ini.
“Beli Aqua satu Teh,”ucap pria berjenggot menyadarkan ku dari lamunan panjang ku.
“Eh, iya…” ucap ku sedikit terkejut sambil segera bangkit dari duduk ku. Kunang-kunang sepertinya sedang ingin mendekati ku kali ini.
“Haduh, sore-sore kok ngalmun. Mending duduk didepan atuh teh. Kan lumayan tuh bisa sekalian cuci mata,” ucapnya santai.
Aku hanya tersenyum mendengar canda renyahnya itu. Segera ku ambil salah satu merek air mineral yang ia maksud. Kali ini bintik-bintik hitam mulai berdatangan didepan mataku.
“Ini. Terus apa lagi?” tanya ku datar.
“Udah itu aja. Berapa?” tanyanya kemudian.
“Dua ribu lima ratus,” jawab ku dengan suara yang mulai melemah.
“Lho, kok mahal bener? Biasanya aja dua ribu,” protesnya kritis.
“Maaf, nggak bisa mas. Udah dari sananya segitu. Kalo dua ribu, nanti saya dimarahi sama bos,jawab ku tak enak hati, sambil menahan rasa lemas tak tertahan ku.
Ya, toko yang aku tunggu ini memang terkenal mahalnya. Warga sekitar yang sudah tau seluk-beluk dan seberapa mahal harga toko ini pasti tidak akan membeli pada toko serba mahal ini. Mereka rela membeli kebutuhan apapun sedikit jauh dari pada membeli pada toko ini kecuali jika keadaan mendesak.
Dengan sedikit pertimbangan, akhirnya ia mengeluarkan 1 lembar uang sepuluh ribuan.
“Ada uang pas?”tanyaku mulai tak kuat menahan beratnya kepalaku.
” Nggak a…”

“Bruk…” tubuh ku jatuh.
“Tolong-tolong,” teriak pria setinggi 180cm ini panik.

***

Sedikit demi sedikit aku merasakan aroma yang tak kusuka didepan rongga hidung ku. Sedikit demi sedikit pula aku membuka mata ku yang beberapa menit lalu tertutup.Kulihat sesosok laki-laki duduk disamping kiri tubuh ku sambil mengoleskan minyak kayu putih pada kedua telapak kaki ku.
“Siapa kamu?” tanya ku kaget.
“Sabar Teh. Masih lemes tuh. Dah, tiduran aja dulu. Bentar lagi bangunnya. Tenang, saya nggak ngapa-ngapain kok,” ucapnya mengerti apa yang aku takutkan.
Kulihat keadaan sekeliling ku untuk meyakinkan kebenaran ucapannya itu. Terlihat sabun dan odol yang mengelilingi tubuh ku yang lemah ini. Ya, ternyata ucapannya memang benar. Aku tak diapa-apakan oleh laki-laki yang (ternyata) cool ini sampai tak di angkat dari tempat pingsan ku sama sekali. Setelah aku benar-benar yakin, segera ku paksakan diri untuk duduk walau pun masih sedikit lemas.
“Wah, maksa juga ya Teteh ini. Ya udah deh, ni minyak kayu putihnya,” ucapnya kemudian.
Ia berdiri.
“Duh, bukannya gitu mas. Saya ngrasa risih aja dipengang sama cowok,” ucap ku menjelaskan.
“O, ya sudah. Tak apa,” ucapnya mengerti. Sambil menjauh dari sisi ku.
“Berapa harganya?tanyanya kemudian.
“Wah, itu kan saya yang pakai. Masa mas yang bayar,” jawab ku dengan mengharap ia tetap membayar walau aku sudah menolak (basa-basi). Mau bayar pakai apa aku? Tak ada sepeser pun uang yang ada dalam dompet ku.
” Santai aja. Sisanya buat saya. Saya butuh buat nglanjutin perjalanan ke Cibeleuit nanti,” jelasnya.
“O ya sudah kalau begitu.Terima kasih,” jawab ku lega.
“Sama-sama,” ucapnya tulus.
“Berapa?” tanyanya kembali.
“Lima ribu,” jawab ku ragu sambil menggigit bibir, tak tega rasanya mengatakan harga semahal itu.
“Hah??? Lima ribu?” ucapnya tak percaya.
Aku hanya mengangguk tak tega melihat muka penolong ku ini. Tapi, apalah daya. Aku hanya patuh pada atasan ku saja. Karena walau bagaimanapun dialah yang akan memberi ku gaji walau pun tak seberapa.
Setelah ia memberikan uang lima ribuan pada ku, ia pergi tanpa menoleh sedikit pun seperti pria-pria lainnya pada ku. Tubuhnya yang tinggi menjulang hanya bisa aku tatap beberapa menit. Ia hanya meninggalkan aroma minyak kayu putih yang ia oleskan pada ku. Sepertinya pertemuan kami hanya sebatas itu saja. Tak ada yang istimewa. Hanya saja masih ada sedikit penyesalan yang masih mengganjal dalam hati ku.
“Ukhhh…” merutuk dalam hati.




12 Comments so far
Leave a comment

  1.    novi 05.10.11 @ 3:50 pm      

    ehmmm..

    bukan yang di milis kan πŸ™‚

  2.    Lia 05.11.11 @ 4:03 am      

    Lucu, kasian, iba, πŸ˜€

    dengan sedekah, rizki jadi berlimpah ^_^

    •    Ziggy 11.10.11 @ 9:28 am      

      I feel so much happier now I undresantd all this. Thanks!

  3.    luluhmm 05.11.11 @ 1:46 pm      

    @mas novi: O, bukan… Beda tokoh paman… :p
    @mba lia : Mana bisa sedekah. Orang buat makan aja ga ada πŸ˜€

  4.    Semut Smart 05.15.11 @ 4:52 am      

    Baik juga ya cowok itu…
    tapi ini ngga true story kan mba???
    πŸ™‚

  5.    sawali tuhusetya 05.17.11 @ 12:15 pm      

    konlik kejiwaan tokoh “aku” sungguh menarik utk diiukti, mbak lulu. pingsannya dia karena ketemu cowok atau karena posisi dia sebagai pramuniaga?

  6.    luluhmm 05.20.11 @ 8:18 am      

    @ mr.semut smart: ga lah… aku kan bukan pramuniaga :p
    @ mr. sawali tuhusetya: karena sebagai pramuniaga yang belum makan karena lagi nggak ada uang pak πŸ™‚ ada yang janggal kah? saya juga sebenarnya merasakan kejanggalan itu. tapi entah dari sudut mananya saya belum bisa merasakannya

  7.    m-amin 05.27.11 @ 2:08 am      

    Met kenal ya Mbak Luluh…Kita semua berjuang dan berkorban tentunya tidak ada yang sia-sia apabila semua aktifitas kita dilandasi dengan ibadah …

  8.    angel 05.27.11 @ 11:28 am      

    kisah nyata kah ini sis?

  9.    tunsa 05.28.11 @ 2:31 am      

    salam kenal, makasih sudah berkunjung…
    boleh saya baca2..? hehe

  10.    luluhmm 05.29.11 @ 11:56 am      

    @angel: ya ga lah..
    @tunsa: boleh bgt… Silakan..
    @MHd Wahyu: πŸ˜€ maklum, baru belajar nulis.. Jd banyak yang inkoheren

  11.    sufyan 06.16.11 @ 3:44 pm      

    wah bAgus tu ceritanya,,bisa di Ambil pelaJarannya..



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>