Bukan Santri Biasa


2 Hati 1 Cinta
April 26, 2014, 3:52 am
Filed under: Cerber

Fadhilah

Kuseka peluh yang membanjiri dahiku dengan sehelai tissue pocket dari tas orange ku perlahan.Cuaca tengah hari seperti ini memang sangat panas di kota udang ini. Jangankan tengah hari, pukul 10.00 pun bagi orang yang terbiasa hidup di kaki gunung seperti ku ini pasti sudah malas beranjak dari peraduan. Terkecuali jika ada suatu kepentingan mendesak seperti saat ini yang mau tak mau aku harus keluar. Skripsi ku hampir selesai. Aku hanya butuh bubuhan tanda tangan dari pembimbing dan penguji saja untuk dikumpulkan di atas meja prodi. Perjuangan tugas akhir kuliah di strata 1 ini memang lebih ekstra dari pada diploma 3 kemarin. Setidaknya aku memakan lebih banyak waktu dan berpikir ekstra untuk menyelesaikannya.

Semoga dimudahkan semua urusan hari ini,” do’a ku dalam hati.

Hampir empat bulan ini aku merantau lagi setelah 10 tahun sebelumnya, dari lulus SD sampai kuliah aku mesantren di wilayah Bumiayu. Sebenarnya banyak sekali sejarah yang ku ukir di kota cantik itu. Enggan sekali ketika aku meninggalkannya. Terlebih lagi seseorang yang kini ada dalam hatiku berada di sana. Berat sekali rasanya.Tapi apa boleh buat, aku tak akan tega membiarkan orang tua ku memikul beban yang berat untuk membiayai ku bolak-balik Indramayu-Cirebon-Bumiayu yang membutuhkan biaya yang mahal ditambah adik sulung ku yang sama-sama kuliah di kota lain yang juga membutuhkan biaya yang hampir sama. Dan hampir 4 bulan ini u aku kembali lagi mesantren tapi di tempat yang berbeda, Cirebon. Kali ini bukan karena aku ingin kembali lagi dengan suasana pesantren sebenarnya, tapi untuk menyelesaikan skripsiku.

Eit, ngomong-ngomong seseorang dalam hatiku? Ya, dalam hati. Seseorang yang beberapa bulan ini sukses membuatku uring-uringan memikirkan segala tingkah laku dan ucapannya. Ah, entahlah mengapa seniorku yang satu itu enggan keluar dari isi kepalaku padahal sudah berulang kali aku mencoba berbagai cara agar aku melupakannya. Tapi ternnyata sampai saat ini nihil. Belum ada satu cara pun yang membuat aku benar-benar total melupakannya. Tak lama aku melamun, tulisan besar berbunyi “ASTON” membuatku sedikit terkaget sudah sampai mana aku sekarang.

“Kiri,” ucap ku sedikit berteriak.

“Kiri neng?” tanyanya meyakinkan.

“Iya bang,” sahut ku cepat.

Beberapa detik kemudian mobil minggir dan berhenti persis di depan warung gorengan. Serentetan anak sekolah berseragam putih abu sudah berdiri di depannya. Beberapa anak memilih masuk ke dalam mobil dan sisanya memilih menghiraukan ajakan driver untuk ikut angkutan yang dibawanya. Aku sendiri langsung memilih menyebrangi jalan dan membeli rujak buah di depan mini market yayasan sebelum masuk kampus. Memilih untuk memakan rujak buah terlebih dahulu adalah pilihan tepat bagi orang yang terserang lesu sepertiku saat ini. Setidaknya percampuran sensasi segar, asam dan pedasnya dapat mengubah rasa lesu dengan semangat baru sebelum disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang pasti memakan energi ekstra seperti ini.

“Eh, eneng. Kok baru keliatan. Dari mana aja neng?” tanya si mamang penjual buah.

“Habis penelitian pak, di Brebes. Selain itu juga udah nggak ada kuliah jadi udah jarang ngampus,” aku menjelaskan.

“Hei Fa, sudah sampai mana skripsinya?” Sapa seorang ibu dari arah berlawanan.

“Tinggal minta tanda tangan penguji sama pembimbing, bu Nia. Setelah itu skripsi saya sudah bisa dikumpulkan,” jawab ku sumringah,”ibu sendiri sudah sampai mana?”

“Wah, selamat ya. Saya juga sudah selesai semua, ini baru selesai registrasi untuk ikut wisuda bulan ini,” jawabnya sambil sesekali melihat layar ponselnya

”Mbak, saya pulang duluan ya, sudah ditunggu suami,” ucapnya tergesa-gesa seraya menjabat tanganku.

“O iya bu, manga-mangga1

Ya beginilah sekolah bersama-sama orang tua. Sebagian besar sudah berumur paruh baya. Dua orang fresh graduate, empat orang lulusan 2-3 tahun sebelumnya dan sisanya mungkin bisa dibilang produk-produk lama berkualitas tinggi. Teman-teman sekelas ku ini walaupun umurnya sangat jauh dari kata muda, tapi wawasan mereka itu lebih luas dan belum pernah aku dapatkan di kampusku sebelumnya. Two thumbs up deh pokoknya. Tapi itu tak lain karena mereka telah bekerja sebagai perawat lebih lama dan sudah banyak mengikuti berbagai macam seminar kesehatan maupun keperawatan di berbagai tempat di banding teman-teman diploma tiga ku dulu.

Sepeninggal Bu Nia, aku segera membayar rujakku dan segera menemui dosen yang bersangkutan. Tak terlalu peduli dengan rujak yang baru saja aku beli, tak peduli jika semangka yang ada di dalamnya sudah tidak lagi segar dan enak dimakan, tak peduli lagi dengan panasnya cuaca hari ini, yang ada di otakku saat ini hanyalah “Aku bisa ikut wisuda bulan ini! Titik!!!”

♫ ♪ ♫

 

“Faaa,” seseorang memanggilku dari kejauhan.

Aku menoleh sambil menutupi dan menyipitkan mataku silau. Laki-laki berperawakan kurus kecil melambaikan tangan dari arah taman kearahku. Kontan kulangkahkan kaki menuju arahnya.

“Hei! sudah lama di sini mas?” sapaku senang.

“Belum. Aku baru aja datang. Kelompok Waled juga katanya hari ini kesini, tapi lagi ke ruangan bu Nunik,” jawabnya dengan nada khasnya.

“Kamu mau kemana?” tanyanya.

“Saya dari bu Nunik, Alhamdulillah semuanya sudah beres. Mas Rudi sendiri mau apa?” aku balik bertanya.

“Makan di kantin yuk. Laper nih,” ajaknya.

“Yuk, aku juga laper,” aku menyetujui.

Kami berjalan menuju tempat tongkrongan favorit kelas kami. Entah warung apa namanya kami tak peduli. Yang kami tau hanyalah si penjual adalah seorang perempuan berdarah arab, berkerudung panjang yang biasa di panggil “Umi”. Dari wajahnya aku menyimpulkan ia adalah seorang syarifah atau perempuan keturunan para habaib atau habib, yaitu keturuan nabi Muhammad SAW. Gelar syarifah dan habib ini konon katanya ditarik dari garis keturunan ayah yang merupakan seorang habib saja. Dan jika seorang syarifah tidak menikah dengan habib lagi, konon katanya keturunannya tidak dapat dikatakan ia bukan dari keturunan Rasulullah atau  habib atau syarifah lagi.

Sesampainya di kantin terlihat Pak Ruri dan kawan-kawan sedang menikmati makan siangnya. Sebagian hidangan terlihat sudah hampir habis. Beberapa orang kembali memesan tambahan sambel kepada Umi, si pemilik warung.

“Eh, teteh. Mau makan teh?” tawar Umi.

Aku tersenyum.

”Iya mi, saya sama gurame ya,” jawabku.

“Saya juga ya bu,” Mas Rudi mengikuti.

“Minumnya apa teh?”

“Saya air mineral aja,” ucapku.

“Saya teh botol,” jawab mas Rudi.

“Fadhilah, sini fa, gabung. Kalo berduaan terus sama Rudi ntar yang ketiga setan lho,” ledek Mas Ruri sambil mengelap bibirnya.

“Iya mas, tenang aja. Paling yang ketiganya Mas Ruri,” timpal ku seraya menyalami semua ibu-ibu yang ada. Ya, hanya kaum ibu.

“Gimana lu? Beres?” tanya Mas Ruri.

“Alhamdulillah, beres,” jawabku sambil tersenyum.

“Ini ni pak satu-satunya anak yang paling alot skripsinya. Cari kuesioner aja sampai jogja. Ke UGM dia. Ckckckck,” ucapnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Beneran fa kamu ke Jogja?” tanya Mas Juni meyakinkan.

Aku mengangguk.

“Itu kan saking nggak taunya aku aja,” jawabku.

“Nggak papa fa. Toh semuanya untuk kebaikan kamu. Pasti semuanya ada hikmahnya. Apalagi kamu masih muda. Aku yakin, kamu pasti akan memetik hasilnya,” ucap Pak Suhanto menghibur.

“Iya Pak,” ucapku sambil mencomot gorengan bakwan kesukaanku.

Bersambung….

Facebook Comments


Leave a Reply



2 Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>