Bukan Santri Biasa


Keramat

masjid an nur ponpes al hikmah 2

Benda, 2003

Pemandangan didepanku hampir sama persis dengan pemandangan didepan rumahku, Indramayu. Yang membedakan hanya tanahnya. Tanah di Indramayu datar, sedangkan disini dibuat sengkedan karena wilayahnya diperbukitan. Aku tak pernah menyangka jika akhirnya aku harus melabuhkan hidupku ditempat ini.  Pesantren yang dibangun pada 91 tahun ini didirikan  oleh KH. Kholil bin Mahally. Sampai saat ini masih berdiri dan bertambah kokoh ditengah desa terpencil di Brebes Selatan. Dan sekarang pesantren ini diasuh oleh cucunya, KH. Muhammad Masruri Abdul Mughni.

Konon cerita yang pernah aku dengar mengapa pesantren ini tak pernah berhenti membangun bangunan-bangunan baru, karena sang kiai mendo’akan agar tidak  pernah selesai membangun pesantren. Dan rupanya do’a sang kiai maqbul, sehingga hingga saat ini pembangunan pesantren ini tetap berjalan dan berkembang.Aku sendiri meyakini bahwa tanah yang aku pijak ini merupakan salah satu keramat (dibaca: karomah) beliau. Begitu tajamnya ucapan para ulama terdahulu membuktikan akan terjaganya besihnya jiwa mereka, sehingga tak ada satu pun karat yang mau menumpulkan imannya. Maka tajamlah ucapannya.

Dan sore ini aku duduk terpesona menatap hamparan sawah yang hijau membentang luas dari lantai 2 masjid An Nur pondok pesantren Al Hikmah 2. Sesekali satu dua santri mencoba mengacaukan pandanganku. Namun pengancauan itu tak membuat berkurangnya keindahan desa nan asri ini. Terlihat semakin eksotis malah.

Kicauan burung-burung  yang riang mencoba memecahkan keheningan. Membuat tubuh mungilku tak ingin segera menjauh. Sepoi-sepoi angin yang menerpa wajahku rupanya enggan untuk  pergi. Tebalnya sajadahku  ternyata tak membuat dingin menjauh dari peraduanku. Walau aku harus beberapa kali menyeka ingus  dari hidungku, namun aku tetap tak bergeming.  Aku mengusapnya dengan tissue toilet. Ya, tissue toilet bermerk “Nice” adalah sahabat yang paling setia menemai dikala musim penghujan tiba. Maklum, aku tak mampu jika harus membeli tissue-tissue mahal selain itu. Lumayan, dari pada harus membeli tissue pocket yang pasti menguras jatah bulananku yang hanya untuk menampung ingus dan berujung pada tong sampah, lebih baik uang itu aku pakai untuk keperluan lain yang lebih penting dan bermanfaat selain itu.

2 jam berlalu. Aku masih membeku ditempat yang teramat mewah (dibaca: mepet sawah) ini. Lalu lalang gerombolan pria bersarung menyadarkan aku dari lamunan panjangku. Beberapa buku LKS yang kubawa masih tergeletak manis dibawah mushaf pojokanku. Ya, aku hanya membaca LKS. Itu pun tak banyak.

“Payah,” ucapku dalam hati.

Sayup suara adzan pertanda aku harus segera beranjak dari tempat yang akan menjadi tapak tilas sejarah kehidupanku ini. Do’a, cita-cita dan harapan kutanamkan dan kusemai disana.

“Semoga pohon yang aku tanam akan berbuah baik,” do’aku dalam hati.

***

Ba’da maghrib seluruh santri berbondong-bondong mengikuti kajian ilmu alat dikelas masing-masing yang telah ditentukan oleh pengurus pondok. Kitab yang dikaji disesuaikan dengan kelas dan sekolah masing-masing. Aku yang masih duduk dikelas 1 MTs harus mempelajari kitab juru miyyah karya syaikh…. Sebelum aku mengkaji kitab-kitab diatasnya. Aku sendiri merasa belum paham mengapa aku harus mempelajari pelajaran ini. Satu kata yang mewakili isi hatiku saat ini: SUSAH. Demi menggugurkan kewajiban, mau tak mau aku harus tetap berangkat walaupun belum tentu aku paham dengan penjelasan yang guruku sampaikan. Setidaknya dengan berangkat, sedikit demi sedikit aku akan paham dengan sendirinya.

“Lu, berangkat yuk. Takut ustadzahnya rawuh,” Ajak  Shofwa, sepupuku yang kebetulan satu kelas denganku.

“Hayuk, bentar, aku mau ambil sandal dulu,” sahutku cepat.

***

Mempelajari ilmu agama bagi orang awam sepertiku sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku benar-benar kewalahan menghadapi banyak hapalan. Dalam 1 minggunya setidaknya ada 3 pelajaran yang harus dihapal. Bagaimana aku bisa belajar intensif jika jadwalku disini sangat padat? Kegiatan dimulai dari bangun tidur hingga aku hendak tidur lagi ketika malam hari.

Aku terbiasa bangun pukul 03.00 dini hari. Ini yang tak biasa aku lakukan dirumah. Paling cepat aku bangun ketika adzan subuh berkumandang. Sedangkan disini, aku harus bangun 2 jam an lebih awal dari biasanya. Rasa malas untuk bangun kerap kali menghampiri. Tapi jika ingat bagaimana susahnya mendapatkan antrean kamar mandi, semua itu sirna seketika. Walaupun sangat dipastikan aku akan mengantuk sebelum adzan subuh berkumandang, tapi inilah pengorbanan untuk mendapatkan cintanya ilmu yang aku yakini suatu saat pasti aku akan mendapatkannya.

Biasanya guru-guruku tak mengambil siswa secara acak utuk maju satu per satu. Absen awal dan akhir adalah sasaran utamanya. Jika belum hapal, itu pertanda mereka harus rela berdiri didepan kelas sambil menghapalkan pelajaran tersebut hingga ia benar-benar hapal. Beruntung namaku diawali dengan huruf “L”. itu artinya nomor urut absenku berada ditengah-tengah. Ketika teman-temanku satu persatu maju kedepan, setidaknya aku masih ada waktu untuk mematangkan hapalanku yang sering lupa-lupa ingat.

Qur’an hadits, al Qur’an, nahwu dan shorof adalah pelajaran wajib yang ditekankan untuk menghapal. Tapi dari sini pulalah aku baru menyadari bahwa diriku tak pintar. Rangking 1 atau 2 yang sering aku dapatkan ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar sepertinya harus diakhiri ketika kelas 6 lalu. Aku tak menyangka ini terjadi. Namun, setelah aku sadari memang kemampuan mengingat dengan cepatku memang sedikit buruk.

“Lu, ngapain? Mondar-mandir gitu?” tanya Zulfa, gadis mungil asal Bandung.

Yang ditanya tak mempedulikan, ia tetap sibuk bolak-balik sambil memegang buku didepan kelas dengan mulut berkomat-kamit seperti membaca mantra. Sesekali ia mengernyitkan dahi lalu membuka buku yang ia pegang hingga bel masuk berbunyi. Si penanya hanya mengernyitkan dahi diiringi dengan gelengan kepala, sambil memasuki kelas.

“Nur, sudah hapal belum Nahwunya?”  tanyaku.

“Belum lu, aku takut dita’zir lagi nih, kamu sendiri udah hapal belum?” tanyanya.

“Belum,” jawabku singkat, lalu melanjutkan kembali hapalanku.

Itulah salah satu cara jituku untuk mengurangi stresku.Menanyakan hapalan teman yang (biasanya) belum hapal, ku yakini bisa merilekskanku dari beban hapalan yang (seringnya) banyaknya minta ampun.

***

“Luna.”

Namaku disebut.

BERSAMBUNG………………

Nantikan kisah berikutnya 😀




1 Comment so far
Leave a comment

  1.    Rafael Graham 09.08.13 @ 1:58 am      

    Ya, aku hanya bisa mendo’akan mu agar kau bisa tabah dan kuat dengan kaki mu yang masih kecil. Semoga tuhan akan sesegera mungkin menunjukan kebahagian mu dengan cara-Nya. Semoga, insyallah.



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>